Selasa, 03 Mei 2016

Terpanggil menjadi Guru?

Guru, sebutan yang cukup berat untuk seseorang yang tidak cukup baik dalam menjalani kehidupan. Saya baru merasakannya setelah saya memutuskan untuk tidak menjadi guru di sekolah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Guru adalah sebuah profesi (mata pencaharian), seseorang yang pekerjaannya adalah mengajar. Setelah lulus kuliah saya memang memutuskan menjadi guru dengan mimpi yang sangat cetek yaitu pulang siang dan liburnya banyak. Namun setelah 3 tahun menjaidi guru di sebuah sekolah swasta di jakarta, saya baru merasakan, menjadi guru itu adalah panggilan. Menjadi guru tidak semata-mata hanya profesi (mata pencaharian), ingin libur yang banyak, dan pulang siang. 

Sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai Human and Organizational Development staff, masih berurusan dengan mengajar dan pengembangan SDM. Kurang lebih pekerjaan ini memliki kemiripan dengan pekerjaan menjadi guru, hanya tingkat keribetannya berbeda. Di sini saya ingin sharing tentang suka dan duka mejadi guru menurut pengalaman saya. 


DUKA jadi Guru

Menjadi guru itu beban moral. Sungguh klise rasanya jika pekerjaan seorang guru itu adalah mengajar. Lebih dari itu, menjadi guru dituntut untuk dapat mendidik anak. Bagaimana bisa kita mengarkan dan mendidik dengan baik apabila kitanya "tidak baik". Tidak baik di sini saya beri petik karena kesan dan definisi tidak baik itu bermacam-macam, tergantung bagaimana masyarakat di sekitar. 

Menjadi guru itu harus bisa multitasking. Banyak kejutan yang akan hadir setiap harinya, dari rumah sudah merencanakan setalah mengajar akan membuat materi dan rencana pengajaran untuk pertemuan berikutnya, tapi ada anak yang berantem dan harus diselesaikan. Kejutan-kejutan seperti yang membuat kita harus bisa multitasking supaya pekerjaan tetap selesai.

Menjadi guru itu harus pretend like ibu-ibu. Pengalaman saya adalah guru SD. Meskipun saya belum pernah menikah dan merasakan menjadi seorang ibu, tapi saya harus bisa menjadi ibu untuk murid-murid. Saat mereka salah aku harus berani untuk menegur dan memarahi mereka, dan saat mereka melakukan hal yang baik saya harus mengapresiasinya. Dan semua itu harus saya bagi rata ke semua murid. tak boleh pilih kasih. Ini gak mudah.

Menjadi guru itu harus ikhlas untuk ribet. Administrasi yang dibuat oleh seorang guru itu tidaklah mudah dan simple. Udah susah, ribet lagi. Kenapa susah? karena sebagai guru harus selalu improving knowledge dan punya inovasi-inovasi mengajar yang baru. Kenapa ribet? karena semua tindakan yang kita lakukan harus diadministrasikan. Kalo gak mau gimana? Berarti jangan jadi guru.


SUKA jadi Guru


Menjadi guru itu akan selalu ada alasan untuk bahagia. Setiap hari bertemu dengan anak-anak dengan tingkat kelucuan dan menjengkelkan yang berbeda-beda. Emosi yang berubah-rubah setiap harinya membuat kita akan bahagia. Kenapa? karena setiap hari selalu ada cerita yang seru dan gak flat.  Makanya guru biasanya dikategorikan sebagai salah satu makhluk Tuhan yang awet muda. 

Menjadi guru itu belajar tentang kehidupan. Setiap murid yang ada di sekolah mempunyai latar belakang dan cerita kehidupan yang berbeda. Di situlah kamu bisa belajar tentang dunia ini unik. Hal-hal yang sepertinya tidak pernah kamu alami, bisa saja mereka mengalaminya. Tidak jarang hal-hal tersebut seperti reminder untuk kita, supaya kita selalu bersyukur akan hidup kita sendiri. 

Menjadi guru itu seru. Seorang guru pastinya juga melewati masa-masa sekolah dan pasti pernah merasakan rasanya menjadi murid. Kejadian-kejadian yang murid lakukan rasanya bisa jadi masa-masa untuk mengenang masa lalu. Makanya, tak sedikit guru yang punya hobi bercerita tentang pengalamannya. 

Tulisan wikandhita kali ini dibuat sebagai referensi sebelum memutuskan menjadi guru dan mengobati kerinduan saya saat menjadi guru. Menjadi guru itu adalah panggilan. Sudahkah kamu terpanggil setelah membaca tulisan saya? hehehe.